Restrukturisasi & Kebangkrutan

Definisi yang pasti mengenai istilah-istilah tersebut sulit dirumuskan. Pengertian kebangkrutan sendiri bisa dilihat dari pendekatan aliran dan pendekatan stock. Dengan pendekatan stock, perusahaan bisa dinyatakan bangkrut jika total kewajiban melebihi total aktiva. Jika perusahaan mempunyai hutang Rp. 1 milyar, sedangkan total asetnya hanya Rp. 500 juta, maka perusahaan tersebut sudah bisa dinyatakan bangkrut.

Dengan pendekatan aliran, perusahaan akan bangkrut jika tidak bisa menghasilkan aliran kas yang cukup. Dari sudut pandang stock, perusahaan bisa dinyatakan bangkrut meskipun mungkin masih menghasilkan aliran kas yang cukup, atau mempunyai prospek yang baik di masa mendatang.

1. Penyebab Kesulitan Keuangan. Penyebab kesulitan keuangan dan kebangkrutan cukup bervariasi. Jenis industri sendiri mempengaruhi penyebab kegagalan usaha. Ada sektor usaha yang relatif mudah dikerjakan, ada yang sulit. Kegagalam bisnis juga bervariasi tergantung umur usaha.

2. Alternatif Perbaikan Kesulitan Keuangan. Jika perusahaan mencapai tahap tidak solvabel, pada dasarnya ada dua pilihan, yaitu likuidasi (kebangrkutan) atau reorganisasi. Likuidasi jika nilai likuidasi lebih besar dibandingkan nilai perusahaan kalau diteruskan. Reorganisasi kalau perusahaan masih menunjukkan prospek yang baik, sehingga nilai perusahaan kalau diteruskan lebih besar dibandingkan dengan nilai perusahaan kalau dilikuidasi.

Pemecahan Secara Formal. Dilakukan apabila masalah sudah parah, kreditur dan pemasok dana lainnya ingin mempunyai jaminan keamanan dan keadilan. Pemecahan secara formal melibatkan pihak ketiga yaitu pengadilan.

Cara :

a. Apabila nilai perusahaan > Nilai perusahaan dilikuidasi, dilakukan Reorganisasi, dengan merubah struktur modal menjadi struktur modal yang layak. Perubahan bisa dilakukan melalui perpanjangan, perubahan komposisi, atau keduanya.

b. Apabila nilai perusahaan < Nilai perusahaan dilikuidasi, likuidasi lebih baik dilakukan. Likuidasi dengan menjual asetaset perusahaan, kemudian didistribusikan ke pemasok modal di bawah pengawasan pihak ketiga.

Perbaikan Informal. Jika prospek perusahaan di masa mendatang cukup baik, kesulitan keuangan bersifat sementara, maka restrukturisasi perlu dilakukan. Jika kesulitan tersebut bersifat permanen, maka kebangkrutan atau likuidasi merupakan pilihan yang lebih baik. Jika kesulitan perusahaan bersifat permanen, maka nilai perusahaan yang dilikuidasi akan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai perusahaan jika dijalankan terus.

Restrukturisasi. Cara yang bisa dilakukan adalah mengurangi beban-beban yang menghimpit perusahaan.

Extension. Melalui perpanjangan, kreditor bersedia memperpanjang masa jatuh tempo hutangnya. Sebagai contoh, hutang yang pada mulanya jatuh tempo dalam lima tahun, sekarang diperpanjang menjadi sepuluh tahun.

Komposisi (Composition). Komposisi dilakukan melalui perubahan nilai hutang lama. Sebagai contoh, hutang lama sebesar Rp. 100 diturunkan nilainya menjadi Rp. 60. Meskipun nilai hutang turun, kreditor masih bisa menerimanya karena nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan nilai hutang jika perusahaan dilikuidasi.

Likuidasi. Dalam beberapa situasi likuidasi informal juga bisa dilakukan. Jika nilai perusahaan dilikuidasi lebih tinggi dibandingkan dengan nilai perusahaan yang going concern (berjalan terus), maka perusahaan sebaiknya dilikuidasi. Likuidasi informal mempunyai kelebihan dibandingkan dengan likuidasi formal, karena lebih cepat dan bisa menghemat biaya pengadilan, sehingga nilai likuidasi yang diperoleh bisa lebih tinggi dibandingkan dengan nilai yang diperoleh jika likuidasi dilakukan melalui pengadilan.

Perbaikan formal melibatkan pihak ketiga seperti pengadilan. Melalui pihak ketiga, pihak-pihak yang terlibat dalam kebangkrutan bisa memperoleh perlindungan dari pihak lainnya. Pengadilan berusaha agar pihak-pihak yang berkaitan memperoleh perlakuan yang adil selama proses perbaikan tersebut.

Keuntungan Perbaikan Formal. Ada dua alasan secara teoritis yang mendorong perusahaan menggunakan jalur resmi, yaitu :

1. Permasalahan Common Pool, dan

2. Permasalahan Hold Out.

Common pool. Misalkan suatu perusahaan mempunyai nilai hutang nominal sebesar total Rp. 20 milyar, yang berasal dari 10 kreditor dengan besar masing-masing adalah sama (Rp. 2 milyar). Nilai pasar perusahaan tersebut jika bertahan adalah Rp. 15 milyar. Jika dilikuidasi, aset perusahaan bisa dijual menghasilkan kas sebesar Rp. 10 milyar. Misalkan kondisi perusahaan
memburuk sehingga tidak bisa membayar salah satu hutangnya, maka kreditor tersebut bisa menuntut agar perusahaan dibangkrutkan.

Hold-out. Hold-Out. Misalkan pada contoh di atas perusahaan berhasil meyakinkan kreditor agar dilakukan restrukturisasi. Hutang yang lama (yang besarnya Rp. 2 milyar untuk setiap kreditor), diganti dengan hutang baru yang nilainya lebih rendah, misal Rp. 1,4 milyar untuk setiap kreditor. Jika kreditor menyetujui usulan tersebut, total hutang menjadi Rp. 14 milyar. Karena nilai perusahaan jika jalan terus adalah Rp. 15 milyar, maka pemegang saham memperoleh sisa sebesar Rp. 1 milyar. Perusahaan dengan demikian tidak perlu dilikuidasi, tetapi masih bisa berjalan terus. Kreditor secara keseluruhan juga diuntungkan (dibandingkan jika bangkrut), karena nilai Rp. 14 milyar lebih besar dibandingkan dengan Rp. 10 milyar (jika dibangkrutkan dan dilikuidasi).

Reorganisasi. Jika nilai perusahaan going concern lebih tinggi dibandingkan dengan nilai perusahaan dilikuidasi, maka pilihan reorganisasi/restrukturisasi layak dilakukan. Dalam situasi ini, operasi perusahaan akan diteruskan setelah dilakukan perbaikan-perbaikan, terutama perbaikan struktur modalnya. Trustee (kurator) bisa ditunjuk untuk menjalankan reorganisasi tersebut. Rencana reorganisasi didasarkan pada prinsip keadilan dan kelayakan. Prinisip keadilan berarti semua pihak harus diperlakukan secara adil (fair). Prinsip kelayakan berarti rencana tersebut harus layak (bisa) dilakukan. Sebagai contoh, jika perusahaan mempunyai beban hutang terlalu tinggi sedangkan kemampuan penjualan sangat kecil, maka reorganisasi tidak layak dilakukan.

Langkah-langkah Reorganisasi.

1. Menentukan Nilai Perusahaan. Penilaian yang sering digunakan, dan yang termasuk cukup sederhana, adalah menghitung nilai perusahaan berdasarkan tingkat kapitalisasi. Misalkan kurator atau pihak penilai memperkirakan perusahaan setelah direorganisasi mampu menghasilkan pendapatan bersih pertahunnya adalah Rp. 10 milyar. Tingkat kapitalisasi untuk perusahaan yang serupa adalah 20%. Nilai perusahaan tersebut bisa dihitung sebagai berikut ini. Nilai perusahaan = Rp.10 milyar / 0,2 = Rp. 50 milyar Pihak lain bisa sampai pada angka yang berbeda. Perbedaan sangat mungkin terjadi karena sangat sulit menghitung pendapatan bersih di masa mendatang.

2. Menentukan Struktur Modal yang Baru. Struktur modal tersebut bertujuan mengurangi beban tetap (bunga) agar perusahaan bisa beroperasi dengan lebih fleksibel. Untuk mengurangi beban tetap tersebut, total hutang biasanya akan dikurangi.

Likuidasi. Kas yang diperoleh dari likuidiasi aset perusahaan akan didistribusikan dengan urut-urutan tertentu, misal (dari yang paling berhak memperoleh pertama, sampai yang paling terakhir memperoleh hak).

1. Biaya administrasi yang berkaitan dengan urusanlikuidasi, termasuk biaya pengacara, kurator (trustee)

2. Klaim dari kreditor (hutang) yang muncul dari kegiatan bisnis mulai dari saat kasus dibawa ke pengadilan sampai ke saat trustee (kurator) diangkat

3. Gaji pegawai yang diperoleh dalam waktu 90 hari sesudah (within) petisi kebangkrutan. Jumlah ini dibatasi sampai $2.000 per-pegawai.

4. Premi pensiunan pegawai untuk masa kerja dalam 120 hari petisi kebangkrutan diajukan. Klaim ini dibatasi $2.000 perpegawai dikalikan jumlah pegawai.

5. Uang muka dari pelanggan yang membeli barang tetapi belum memperoleh barangnya.

6. Pajak pendapatan sampai tiga tahun sebelum kebangkrutan, pajak properti sampai setahun sebelum kebangkrutan, dan semua pajak pendapatan yang masih ditahan oleh perusahaan.

7. Kreditor umum.

8. Saham preferen.

9. Saham biasa.

Contoh Likuidasi dan Reorganisasi (Restrukturisasi). Berikut ini langkah-langkah yang dilakukan untuk reorganisasi.

1. Menghitung Nilai Perusahaan. Misalkan pihak pengadilan dan kurator mengestimasi penjualan di masa mendatang bisa mencapai Rp. 75 juta pertahun. Marjin keuntungan (profit margin) yang bisa dicapai diperkirakan sekitar 10%. Dengan kata lain keuntungan yang diperkirakan diperoleh perusahaan tersebut adalah sekitar Rp. 7,5 juta pertahun.

2. Menghitung Tingkat Kapitalisasi atau Tingkat Multipel, dan Nilai Perusahaan. Misalkan saja tingkat kapitalisasi perusahaan yang sejenis adalah sekitar 12%. Maka,

Nilai = 7,5 juta / 0,12 = Rp. 62,50 juta.

Tehnik multipel (seperti PER) juga bisa digunakan. Misalkan saja rasio PER (Price Earning Ratio) untuk perusahaan lain adalah sekitar 8 kali. Pihak penilai menganggap rasio tersebut cukup wajar untuk perusahaan tersebut. Dengan menggunakan tehnik tersebut nilai perusahaan adalah :

Nilai perusahaan = Rp.7,5 juta x 8 = Rp. 60 juta

Tentu saja tehnik atau cara yang berbeda akan menghasilkan angka yang berbeda. Misalkan saja pihak kurator menentukan nilai perusahaan adalah Rp. 60 juta.

3. Menentukan Struktur Modal yang Baru. Karena jumlah Rp60 juta tersebut lebih rendah dibandingkan total klaim (total pasiva), maka struktur modal yang baru perlu ditentukan. Struktur modal yang baru diharapkan lebih meringankan beban tetap perusahaan.

4. Prediksi Kebangkrutan. Ada beberapa indikator yang bisa dipakai untuk memprediksi kebangkrutan. Indikator tersebut bisa berupa indikator internal (dari dalam perusahaan) dan indikator eksternal (dari luar perusahaan). Beberapa contoh indikator internal perusahaan adalah aliran kas perusahaan, strategi perusahaan, laporan keuangan, trend penjualan, kemampuan manajemen.

Indikator eksternal bisa diambil dari pasar keuangan, informasi dari pihak yang berkaitan seperti pemasok, dealer, dan konsumen. Sebagai contoh, dealer (misal sepeda motor) bisa memonitor seberapa besar minat konsumen terhadap sepeda motor merek tertentu, atau memonitor merek sepeda motor apa saja yang paling laris dan paling tidak laris.

Prediksi Kebangkrutan dengan Rasio Keuangan

1. Analisis Univariate. Analisis univariate dilakukan dengan melihat variabel keuangan yang diperkirakan mempengaruhi atau berkaitan dengan kebangkrutan, dengan menganalisis terpisah (untuk setiap variabelnya).

2. Analisis Multivariate. Analisis multivariate menggunakan dua variabel atau lebih secara bersama-sama ke dalam satu persamaan. Analisis ini bisa dipakai untuk menghilangkan kelemahan analisis univariate yang mempunyai kemungkinan konflik antar variabel. Untuk membuat model multivariat, kita perlu mendefinisikan variabel bebas dan variabel tidak bebas, seperti berikut ini (seperti model regresi).

Y = a + a1 X1 + …… + an Xn

Variabel tidak bebas (Y) biasanya berupa variabel dummy (0) untuk perusahaan yang bangkrut atau 1 untuk perusahaan yang tidak bangkrut). Kemudian X1 sampai Xn (variabel bebas) adalah variabel yang diperkirakan mempengaruhi kebangkrut an.
Model prediksi kebangkrutan multivariate yang cukup terkenal dan menjadi pioner adalah model kebangkrutan yang dikembangkan oleh Altman (1969). Model tersebut menggunakan tehnik statistik analisis diskriminan, dan secara umumbisa dituliskan sebagai berikut ini.

Z = a + a1 X1 + …… + an Xn

Dimana, Z merupakan skor kebangkrutan, sedangkan X1…Xn adalah variabel bebas.

Model yang dikembangkan oleh Altman menghasilkan persamaan sebagai berikut ini.

Zi = 1,2 X1 + 1,4 X2 + 3,3 X3 + 0,6 X4 + 1,0 X5

Dimana,

X1 = (Aktiva lancar – Hutang Lancar) / Total Aktiva
X2 = Laba yang ditahan / Total Aset
X3 = Laba sebelum bunga dan pajak / Total aset
X4 = Nilai pasar saham biasa dan saham preferen / Nilai buku total hutang
X5 = Penjualan / Total Aset

Penelitian yang dilakukan oleh Altman (1969) dengan menggunakan data di Amerika Serikat menunjukkan bahwa skor kritis untuk model tersebut adalah 1,8. Jika suatu perusahaan mempunyai skor di bawah 1,8, maka perusahaan
tersebut mempunyai probabilitas yang tinggi untuk bangkrut, dan sebaliknya.

Bagaimana dengan di Indonesia, bisakah model tersebut diterapkan? Salah satu perbedaan yang mencolok antara Indonesia dengan Amerika menggunakan model yang dipakai oleh Altman adalah sedikitnya perusahaan Indonesia yang gopublic. Jika perusahaan tidak go-public, maka nilai pasar saham tidak bisa dihitung.

Untuk mengganti nilai pasar, Altman kemudian menggunakan nilai buku saham biasa dan saham preferen sebagai salah satu komponen variabel bebasnya, dan kemudian mengembangkan model diskriminan kebangkrutan, dan memperoleh model sebagai berikut.

Zi = 0,717 X1 + 0,847 X2 + 3,107 X3 + 0,42 X4 + 0,998 X5

Dimana,

X1 = (Aktiva lancar – Hutang Lancar) / Total Aktiva
X2 = Laba yang ditahan / Total Aset
X3 = Laba sebelum bunga dan pajak / Total aset
X4 = Nilai buku saham biasa dan saham preferen / Nilai buku total hutang
X5 = Penjualan / Total Aset

Nilai Z kritis ditemukan sebagai 1,2. Hal tersebut berarti jika suatu perusahaan mempunyai nilai Z di atas 1,2 maka perusahaan diperkirakan tidak mengalami kebangkrutan, dan sebaliknya. Model tersebut kemudian bisa digunakan baik untuk perusahaan yang go-public maupun yang tidak go public.

Bagaimana Jika Tuhan Punya mesin penjawab?

bayangkan bila pada saat kita berdoa dan mendengar ini:
“terimakasih anda telah menghubungi rumah bapa di sorga’pilih salah satu:
tekan 1 untuk meminta
tekan 2 untuk mengucap syukur
tekan 3 untuk mengeluh
tekan 4 untuk permintaan lainnya

atau, bagaimana jika Allah jika Allah memohon maaf seperti ini” saat ini semua malaikat sedang membantu pelanggan lain. tetaplah menunggu, panggilan anda akan dijawab berdasarkan urutannya.

bisakaha anda bayangkan bila pada saat berdoa, anda mendapat respon seperti ini: jikaanda mau bicara dengan Malaikat Gabriel , tekan 1
dengan malaikat Mikhail, tekan 2
dengan malaikat lainnya tekan 3
jika anda ingin mendengar nyanyian raja daud saat anda menunggu, tekan 4

untuk mengetahui apakah orang yang andaa kasihi akan dipanggil ke rumah bapa,masukkanlah nomor KTP-nya. untuk pesan tempat di rumah bapa, tekan Y,O,H,A,N,E,S dan tekan 3,1,6

untuk jawaban pertanyaan tentang dinosaurus,umur bumi,dan dimana bahtera Nuh berada,silahkan sampai anda tiba disini

aau bisa juga anda mendengar ini “Komputer kami menunjukkan bahwa anda telah satu kali menunjukkan bahwa anda telah satu kali menelepon hari ini, silahkan mencoba kembali esok hari”

“kantor kami ditutup pada akhir minggu silahkan menelelpon kembali hari senin setelah pukul 9 pagi

namun puji Tuhan, Allah kita mengasihi kita, anda dapat meneleponNya setiap saat. anda hanya perlu untuk memanggilnya sekali dan Tuhan mendengar anda

karena Tuhan, Anda tidak akan pernah mendapat nada sibuk.Tuhan menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara pribadi

ketika anda memanggil dan Tuhan akan menjawab,anda akan menangis minta tolong dan DIA akan berkata’ ini AKU (Yesaya 58:9)

Ketika anda memanggil, gunakan nomor telepon dibawah ini
– saat berduka cita, Putar Yohanes 14
– Ketika dikecewakan sesama putar mazmur 27
– jika anda ingin berbuah, Putar yohanes 15
– Ketika anda berdosa , putar Mazmur 51
– Ketika anda khawatir , putar matius 6;19-34
– ketika anda dalam bahaya , putar Mazmur 139
– ketika iman anda peru dikuatkan putar ibrani 11
– Ketika anda merasa sendiri dan takut, putar Mazmur 23
– ketika hidup anda sedang dalam kepahitan putar Roma 8:1-30
– ketikan anda menginginkan kedamaian dan ketenangan putar matius 11;25-30
– ketika anda meninggalkan rumah untuk bekerja atau bepergian putar mazmur 121
– Ketika anda membutuhkan keberanian untuk suatu tugas, putas Yosua 1-
– Supaya dapat bergaul dengan baik dengan sesama putar Roma 12
– Ketika anda memikirkan kekayaan putar markus 10
– saatanda mengalami depresi,Putar Mazmur 27
– Jika anda kesulitan keuangan Putar mazmur 37
– Jika orang di sekitar kita tampak berlaku tidak baik, putar Yohanes 15

Nomor nomor tersebut dapat langsung dihubungi , operator tidak diperlukan. Seluruh saluran ke surga terbuka 24 jam

Sumber; saat teduh harian

Check out my Slide Show!

My Slide Show!

International_Marketing

My PIC

Arloji yang Hilang

Ada seorang tukang kayu, Suatu saat  ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu.Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. ia amat mencintai arloji tersebut . karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya.Sambil mengeluh mempersalahkan ketelodoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. namun sia-sia saja arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan.

tibalah saat makan siang, para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. saat itu seorang anak kecil yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira, namun ia juga heran karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia.

Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu. bagaimana caranya engakau mencari arloji ini? tanya si tukang kayu. saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. dengan itu saya tau di mana arloji itu berada, jawab anak itu.

Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam kesibukan dan kegaduhan . ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan.

“segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin (Pengkotbah 4:6)

dikutip dari : renungan saat teduh mingguan